Sebuah Wacana Tentang Kalimat “Saya Salafy”

Ini adalah obrolan antara Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah dengan seorang ustadz yang bernama ‘Abdul Halim Abu Syuqqah. Obrolan ini dinukil dari buku “Beda Salafi Dengan Hizbi : Memang Beda, Kenapa Sama?” karya ‘Abdul Qadir Abu Fa’izah Al-Atsari, hal 100-104.

Syaikh Al-Albani Rahimahullah (SA) berkata; “Jika ditanyakan kepada anda, apa madzhabmu? apa jawaban anda?”

Abu Syuqqah (AS) menjawab; “muslim”.

SA : “Ini tidak cukup !”

AS : “Sungguh Allah telah menamai kita muslim”. Abu Syuqqah membaca firman-Nya -ta’ala- : “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu” (QS. Al-Hajj : 78 )

SA : “Ini adalah jawaban yang benar andaikan kita berada di kurun pertama sebelum tersebarnya kelompok-kelompok sesat. Andaikan kita sekarang bertanya kepada muslim manapun dari kelompok-kelompok sesat ini yang kita telah berbeda dengannya dalam pokok aqidah, maka tidak akan melenceng jawabannya dari kata ini (yaitu “kata muslim”). Semuanya akan menjawab, baik itu orang Syi’ah Rafidhah, Khawarij, Duruz, maupun Nushairi-Alawi. “Aku adalah muslim”. Jadi, ini tidak cukup di hari-hari ini”.

AS : “Kalau begitu aku katakan, aku adalah seorang muslim yang berada diatas Al Qur-an dan As-Sunnah”.

SA : “Ini juga tidak cukup !”.

AS : “Mengapa bisa?”

SA : “Apakah anda mendapati seseorang diantara mereka yang telah kita contohkan -misalnya- dia berkata, “saya adalah seorang muslim yang tidak berada diatas Al Qur-an dan As-Sunnah”. Siapa yang akan menyatakan, “Aku tidak berada diatas Al Qur-an dan As-Sunnah?”

(Kemudian Syaikh -hafizhahullah- mulai menjelaskan pentingnya landasan Islam yang kita bangun, yaitu Al Qur-an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman As-Salaf Ash-Shalih).

AS : “Kalau begitu aku katakan, aku adalah seorang muslim yang berada diatas Al Qur-an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman As-Salaf Ash-Shalih”.

SA : “Jika ada yang bertanya kepadamu tentang madzhabmu, apakah engkau akan mengatakan hal itu kepadanya?”

AS : “Ya”.

SA : “Bagaimana pendapatmu jika kita meringkas kalimat itu menurut bahasa? karena sebaik-baiknya ucapan adalah yang ringkas, lagi menunjukkan (maksud). Maka kita katakan, “Salafi”.

Maksudnya syaikh, daripada kita susah mengucapkan, “Aku adalah seorang muslim yang berada diatas Al Qur-an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman As-Salaf Ash-Shalih”, lebih baik kita mencari istilah lebih ringkasnya. Ternyata kalimat itu diwakili oleh kalimat, “Saya Salafi”.

AS : “Mungkin aku bisa bertoleran denganmu, maka aku katakan kepadamu, “Ya”. Tapi keyakinanku sebagaimana yang telah lalu. Karena awal kali -ketika orang mendengar bahwa engkau adalah salafi-, maka pikiran manusia akan lari kepada banyak perkara berupa tindakan-tindakan bermuatan kekerasan yang sampai pada tingkatan kekasaran yang terkadang terjadi dari salafiyyun”.

SA : “Anggaplah ucapanmu benar. Jika engkau katakan “muslim”, tidaklah pikiran orang akan lari kepada orang-orang Syi’ah Rafidhah, atau Duruzi, atau Isma’ili… dan seterusnya?”

Kelompok-kelompok sesat ini sangat masyhur (terkenal) kebrutalannya, sehingga terkadang membuat orang berburuk sangka kepada Islam dan menyangka sebagai agama yang sadis, padahal Islam berlepas diri dari sikap brutal semacam itu. Bukan cuma itu, disana masih ada kelompok sesat lainnya di zaman ini dari kalangan Khawarij (kita sebut hari ini dengan teroris). Mereka ini juga tidak kalah brutalnya dengan kelompok-kelompok sebelumnya.

Masih segar dalam ingatan kita tentang peristiwa 11 September ketika sekelompok teroris menabrakkan pesawat ke gedung WTC sehingga dunia tersentak kaget dan dunia barat yang sudah mulai simpati dengan Islam, akhirnya benci dan alergi dengan Islam serta kaum muslimin.

Kaum khawarij ini juga (yang mengatasnamakan diri mereka sebagai mujahidin secara dusta) telah melakukan aksi brutal dan teror di pulau Bali. Mereka melakukan peledakan yang menelan jumlah besar dari kalangan kafir maupun muslim. Tidak perlu jauh-jauh, peledakan juga terjadi secara brutal dan keras di Mall Ratu Indah, Makassar.

Semua ini mencoreng wajah Islam sehingga ada sebagian orang -utamanya orang kafir, munafiq, dan lain-lainnya-, jika mendengar kata Islam atau melihat orang yang multazim, maka akan muncul dalam pikirannya segala bentuk kebrutalan dan kesadisan yang disandarkan kepada Islam, akibat ulah kaum khawarij!!

Ini juga menunjukkan kepada kita bahwa mereka (kaum khawarij-teroris) adalah kaum yang tidak berakhlaq. Tidak ada lagi sifat rahmatan lil ‘alamin. Tergesa-gesa, tidak sabar, dan ceroboh; itulah sikap pada umumnya yang menguasai mereka. Nas’alullah as-salamah wal afiyah minal fitan wa ahliha.

AS : “Mungkin saja. Tapi aku telah mengikuti ayat yang mulia ini, “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu” (QS Al Hajj : 78 )”

SA : “Tidak, wahai saudaraku ! Sungguh engkau tidak mengikuti ayat ini, karena ayat ini memaksudkan Islam yang benar (baca: murni).

Seyogyanya anda berbicara dengan manusia sesuai tingkatan berpikirnya. Apakah seseorang diantara kalian akan memahami bahwa engkau adalah muslim sesuai dengan makna yang dimaksudkan dalam ayat itu?

Perkara-perkara yang terlarang (tercela) yang anda telah sebutkan, terkadang benar atau tidak, karena ucapanmu “keras”, ini terkadang pada sebagian individu, bukan menjadi manhaj dalam aqidah ilmiyyah.

Tinggalkan individu-individu itu, karena kita sekarang berbicara tentang manhaj. Karena apabila kita bilang, “Syi’ah, Duruzi, Khawarij, Shufi, atau Mu’tazilah, maka akan muncul perkara-perkara tercela tersebut (berupa sikap keras dan brutal).

Maksud beliau, jika kita sebutkan kelompok-kelompok sesat itu, maka akan muncul juga ke dalam benak seseorang sesuatu berupa kekerasan dan kebrutalan sebagaimana telah kami contohkan dalam footnote sebelumnya.

Jadi, itu bukanlah initi pembicaraan kita. Kita sedang membahas tentang nama yang menunjukkan madzhab seorang manusia yang dia beragama kepada Allah dengannya.”

Kemudia syaikh berkata, “bukankah semua sahabat muslim?”

AS : ” Tentunya muslim”

SA : ” Tapi diantara mereka ada orang yang mencuri dan berzina. Ini tentunya tidak membolehkan bagi seorang diantara mereka untuk berkata, “Aku bukan muslim”. Bahkan dia adalah muslim dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai suatu prinsip. Akan tetapi terkadang ia menyelisihi prinsipnya, karena dia bukanlah ma’shum.

Karenanya, kita -semoga Allah memberkahimu- sekarang berbicara tentang sebuah kata yang menunjukkan aqidah kita, pamikiran kita, dan acuan kita dalam kehidupan kita yang berkaitan dengan urusan agama kita yang kita menyembah Allah dengannya. Adapun fulan orangnya mutasyaddid (keras) atau mutasahil (bergampangan), maka ini adalah perkara lain. “

Kemudian Syaikh Al-Albani -rahimahullah- berkata lagi, “Aku ingin engkau pikirkan kata yang ringkas ini (kata salafi) sehingga engkau tidak tetap bersikeras diatas kata muslim, sedang anda tahu bahwa tidak ada seorangpun diantara kalian yang memahami apa yang anda inginkan selama-lamanya. Jadi, bicaralah dengan manusia sesuai tingkatan berpikir mereka. Semoga Allah Ta’ala memberkahimu dalam sambutanmu”.

inilah diskusi syaikh yang kami nukilkan dari kitab “limadzaa ikhtartu Al-Manhaj As-Salafi” (hal 36-38 ) karya syaikh Salim bin Ied Al-Hilali As-Salafi Al-Atsari -hafizhahullah-, cet. Dar Ibnul Qayyim dan Dar Ibnu Affan, 1422 H.

Jadi, pengakuan seseorang sebagai salafi bukanlah merupakan bentuk tahazzub (pengelompokan diri) yang tercela alias hizbiyyah. Akan tetapi penamaan tersebut adalah wujud Islam murni yang dahulu diyakini dan diamalkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf …

~ by Abu 'Umar on May 27, 2008.

4 Responses to “Sebuah Wacana Tentang Kalimat “Saya Salafy””

  1. Ah Cuman Perkataaan Ulama kok….
    Kalau Yang Di Alquran dan Hadist Sudah jelas

    “Muslim” “Mukmin”

    Perkataan Syaikh Diatas tidaklah bisa menggugurkan Kata Muslim / Mukmin dalam Alquran dan Hadist.

    Kalau Anda SADAR ? kenapa dulu Ibnu Thaimiyah, ibnul Qoyyim, Imam MAzhab tidak mengatakan diri SALAFI, kenapa baru jaman sekarang ???????????

    Aneh, Ada orang yang mengatakan “SAYA MUSLIM” “SAYA MUKMIN” malah dikatakan kurang Tepat dan malah ngurusin Urusan Hati yang tersembunyi dengan Berkata “SAYA SALAFI”.

    Sekarang yang jadi pertanyaan Anda dan pengikut anda adalah :

    KALAU Orang FASIK mengatakan “SAYA SALAFI” apakah anda yakin 100% kalau dia memang pengikut Salafi ????

    Sama saja kan ?????

    Sekali Lagi, Lebih Kuat “muslim” Mukimin yang itu sudah dicontohkan Allah, rasul dan Shahabat serta orang yang mengikuti mereka dengan baik.

    Kalau Anda Masih Saja mendebat pernyataan saya ini, Anda sebegitu yakin Salafi lebih tepat daripada Muslim/Mukmin ???

    Wallahu’ alam

    Agung Sulistyo, ,Amd.Kom, CCNA
    Staff Pengajar TKJ SMKN2 Temanggung
    SYSADMIN ICTTEmanggung

    Aduh-aduh … sampeyan kok mengulang pertanyaan Abu Syuqqah diatas sih, ‘afwan mas, klo sampeyan mau berkomentar hendaknya setelah membaca artikelnya sampai selesai, jangan cuma melihat judul, link di blog saya, lalu serta merta ber-apatis, “ah, websitenya salah satu KBS (Khawarij berbaju salafy), jadinya komennya nanti “aneh”… OK… mohon dibaca ulang …

    Disana Abu Syuqqah menolak pendapat syaikh Al-Albani, padahal beliau sudah menjelaskan argumentasi dan dalil-dalilnya, ana rasa kalau anda menolak, ya sah-sah saja menurut saya, tapi hendaknya anda melihat ketika anda bilang “saya Muslim” kepada orang awam atau kepada orang yang ‘alim, hendaknya dipikirkan dampak-dampak dari ucapan anda, bisa jadi dengan melihat penampilan anda yang berjenggot dan celana diatas lutut, lalu orang sudah bisa membayangkan bahwa anda ini KBS … hiks2 … Allahu a’lam …

    Kenapa anda mengatakan, “Kalau Anda Masih Saja mendebat pernyataan saya ini”?, kenapa? apa anda orang yang sebegitu eksklusif (seperti KBS, menurut anda), sehingga tidak menerima wacana dari orang lain?… ingat mas, disana saya tulis judul “Wacana …”, bukan berarti itu suatu dalil yang wajib harus diikuti oleh kaum muslimin sedunia, bukan berarti juga pendapat asy-syaikh diatas ditolak begitu saja hanya karena tidak sesuai dengan hati, hendaknya kita bisa menimbangnya dengan bijak …

    Fa’tabiruu ya ulil abshar …

    Allahu a’lam bishshawab …

    -Abu ‘Umar Rengga-

  2. Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
    salam kenal dari abu rafiq al-indramayuniy
    jazakumullah khoirin katsiro
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    (aburafiq.blogspot.com)

    wa’alaikum salaam warahmatullahi wabarakatuh…

    Salam kenal juga dari ana, Abu ‘Umar Rengga Al-Arsyaf dari Surabaya…

    Wa’alaikum salaam warahmatullahi wabarakatuh

  3. AssaLamualaykum.
    Salam kenal dari ana abu_jumu’ah dari bekasi.
    Barokallahu fiik

  4. Afwan akh, kenapa warna background-nya hitam, agak susah mbacanya…

    بارك الله فيك

    tidak apa-apa akh… ana menyukai warna hitam… hehe
    wa anta barakallahu fiik

Leave a Reply