Bolehkah Bergabung Dengan Suatu Organisasi
Kalau tentang join ke organisasi insya Allah ana pernah diskusi dengan beberapa ikhwan, dan ibroh dari ustadz…
Insya Allah boleh saja join ke organisasi, syaratnya hanya satu, “Tidak Menyelisihi Syariat”… just it…
Menyelisihi syariat seperti:
1. Visi dan Misi organisasi yg bertentangan dengan syariat (misal; parpol Islam, yg tujuannya cari massa, bukan dakwah)
2. Tidak terjadi ikhtilath, sebagaimana hadits riwayat Ahmad (shahih), bahwa jika dua orang berduaan saja, maka yg ketiganya adalah syetan, diambil mafhum bahwa jika hal terkecil saja dilarang (khalwat), apalagi yang besar (ikhtilath)…, sebagaimana larangan utk berkata “uff” pada orangtua, apalagi memukul mereka pasti lebih dilarang…
3. Join ke organisasi tersebut tidak menjadikan kita meninggalkan perintah-perintah wajib (misal; Shalat, menuntut ilmu, dsb)
4. Pemimpin tertinggnya adalah seorang laki-laki.
Dengan dalil; “Kaum lelaki adalah pemimpin atas kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa`: 34)
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang mereka menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.” (HR. Al-Bukhari)
5. Tidak menjadikan kita fanatik / etnosentris terhadap organisasi tersebut, sebagaimana kebanyakan orang yang berbangga-bangga dengan organisasinya dan merendahkan organisasi yang lain…
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (Al Mu’minun : 52-53)
Juga nasehat dari Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani kepada Hizbut Tahrir, bahwa jika kalian hendak menyatukan kaum muslimin, maka yang pertama kali kalian lakukan adalah membubarkan firqah (kelompok) kalian.
Pengertiannya, jika kita mulai masuk pada suatu kelompok, maka saat itu pula kita mulai memecah belah umat, karena mayoritas dari mereka adalah bersaing satu sama lain, walaupun itu saudara-saudara mereka sendiri.
Lihat saja partai-partai Islam sekarang, sudah tujuannya tidak syar’i, memecah belah umat, cara merekapun tidak sesuai sunnah, banyak bid’ah yang mereka lakukan (misal; aksi turun ke jalan), ikhtilath….
Disamping itu semua jika organisasi tersebut hanya bersifat keduniaan, atau organisasi agama yang sesuai Al Qur-an dan Sunnah, insya Allah diperbolehkan asal tidak melanggar salah satu poin diatas.
Bukanlah disebut hizbi selama kita tidak fanatik terhadap organisasi tersebut…
Allahu a’lam bish-showab…
Rujukan:

Assalamu’alaikum. Afwan akhi, itu motto blog antum kok kayak slogannya anak2 IM? Apa antum dulu mantan juga?
semoga kita tetap istiqomah di jalan para salafushalih, organisasi hanyalah wasilah untuk tercapainya tujuan dakwah Ilallah jangan sampai dijadikan tujuan..teruslah menuntut ilmu dan berdakwah, barokallahufiek
—–
bärokallöhufiik… mantap postingan antum,kiranya cocok tuh ana taruh diblog ana. izin nge-link ya akh.
-Abu Yahya-
OK dipersilahkan… wa iyyaka barakallahu fiik…
Assalamu’alaikum warahmaullahi wabarakatuh,
Mas Rengga, masalahnya ternyata nggak sesimple seperti yang ditulis. Terkadang idealisme harus berbenturan dengan realitas.
Contoh : Saat kita mencari maisya’ disalah satu perusahaan, apakah visi dan misi perusahaannya seperti itu “Allah Ghayatuna… Muhammad Qudwatuna … Al Qur-an Dusturuna …” (perusahaan juga organisasi loch, bukan cuma parpol).
Realitasnya kan tidak. Justru kita sendiri yang harus punya atau paling tidak menciptakan visi dan misi yang berbeda dengan perusahaan tempat kita bekerja. Dan dari situlah kita bisa memotivasi diri sendiri tanpa harus terpengaruh dengan visi dan misi perusahaan. Ibaratnya harus menjadi agen perubah bagi orang-orang di sekitar kita dan mengarahkan mereka agar memiliki tujuan yang sama dengan kita bukan justru menjadi bagian dari mereka yang tidak memiliki visi dan misi yang sama dengan kita.
Tapi lain cerita kalau kita telah siap menghadapi ujian tersebut seorang diri, bukankah jama’ah itu bisa juga berarti satu orang? Disini ana tidak membicarakan tentang diri kita yang punya idealisme tinggi tapi membicarakan orang lain atau muslim yang lain. Bukankah mereka juga saudara kita? Dan tidak semuanya dari mereka punya idealisme seperti kita. Wallahu musta’an.
Kutip :
Ayat yang antum sampaikan ternyata juga mengenai salafi loch… dan sudah terbukti… pamit ya…
Na’am apa yang dikatakan oleh akh Ibnu, salafy (bukan salaf lho) juga saling membanggakan kelompoknya (walaupun mereka tidak membuat kelompok) tetapi mereka memakai simbol-simbol yang mereka identikkan dengan kelompok mereka, makanya salafy juga terpecah ada salafy yaman, salafy madinah ,
Utk Ibnu Abdul Muis dan Abu Mifzal :
Antum harus lebih memahami makna salaf itu sendiri, tidaklah sama dakwah salaf dengan dakwah hizbiyyah. Jika ada orang2 yg mengikuti Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dengan baik, lalu mereka berjalan dan berdakwah diatasnya, apakah kita masih akan mengatakan kalau mereka berdakwah karena hizb?? Ana sarankan antuma membaca sebuah buku yg sangat menarik karangan Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Atsari, “Beda Salafi Dengan Hizbi”, yang merupakan bantahan atas orang-orang yang mencoba memecah belah barisan kokoh dakwah salafiyyah.
Fa’tabiru ya ulil abshar …
Artikel Pengayaan : (klik)
- Memerangi Dakwah Hizbiyyah