MENGGUGAT AKSI “AKSI TURUN KE JALAN”
Tulisan ini terkhususkan kepada kader-kader organisasi Islam yang masih memakai cara “aksi turun ke jalan” sebagai jalan perjuangannya.
Tak jarang kita melihat orang-orang berbaris rapi di jalan, berduyun-duyun membawa poster yang berisi pesan-pesan moral kepada masyarakat yang rusak ini, mengajak dan mengingatkan agar mereka kembali kepada aturan Tuhannya. Mereka berasal dari organisasi-organisasi Islam yang berusaha mengajak masyarakat untuk kembali kepada jalan yang benar. Terkadang mereka juga mengusung poster-poster protes kepada pemerintah, sampai kepada hal yang bersifat politis sekalipun seperti yang terjadi di Depok.
Entah mereka melakukannya dengan damai ataupun merusak, dengan terhijab (terpisah antara laki-laki dengan perempuan) atau tidak, mengusung pesan bermoral atau teror. Semua itu tidak termasuk dalam tulisan kali ini. Yang akan disoroti adalah cara-cara mereka dalam menyampaikan pendapat, yaitu “aksi turun ke jalan”, tentu saja sekali lagi tulisan ini terkhusus untuk kader-kader organisasi-organisasi Islam.
Aksi ini (aksi demo) muncul ketika ada / diterapkannya sistem demokrasi. Aksi demo ini adalah salah satu bagian terpenting dalam sistem demokrasi, sebuah prosedur penyampaian pendapat, tidak akan kita dapati ini dalam sistem Islam. Cerita bahwa ada seorang anak setingkat SD yang mampu mengkoordinasi aksi demo pada masa kekhalifahan adalah ‘bullshit’ (karena tidak diketahui sumber-nya), jikapun ada maka itu tidak bisa dijadikan alasan untuk melegalkan secara syar’i aksi demo.
Orang-orang yang berpikiran bahwa kemuliaan Islam bisa dicapai dengan cara-cara seperti ini, hendaknya segera merombak pemikirannya. Jika mereka ingin memperjuangkan syariat yang mulia ini, haruslah dengan cara-cara yang mulia pula, dan mereka tidak akan mendapati cara-cara yang mulia dari sistem yang bathil / buruk, justru kemuliaan itu ada pada Islam sendiri. Maka saran yang diberikan kepada mereka yang punya semangat tinggi dalam emnegakkan syariat adalah mempelajari lagi secara mendalam Sirah Nabawiyah / jalan hidup Nabi, dan jangan mengaku berdakwah seperti Nabi bila belum pernah mentadabburi Sirah Nabawiyah.
AKSI DEMO ISLAMI, ADAKAH ?
Pernah orang-orang yang melakukan aksi demo mengatakan, “kami melakukan aksi demo ini dengan damai, tidak merusak. Bahkan kami memisahkan antara jamaah laki-laki dari jamaah perempuan agar tidak terjadi hal-hal yang “diinginkan” (apaan sih??), yang kami suarakanpun ide-ide syar’i, Insya Allah”.
Maka kami katakan lagi kepada mereka, bahwa tidaklah ada yang namanya aksi demo dalam Islam. Jika mereka mengada-adakan sendiri, sama dengan mereka mengatakan “pacaran Islami”, “riba syar’i ” dan yang semisalnya. Walaupun tujuan akhirnya benar, tapi jika cara mencapainya ini tidak dengan cara yang benar, ya…mungkin ini yang dinamakan dengan tidak mengikuti sunnah. Seperti kisah Abu Dzar Al-Ghifari yang mencuri untuk dibagikan kepada fakir miskin (kisah ini diplagiat menjadi Robin Hood), toh akhirnya dilarang oleh Rasulullah Muhammad.
“sebenarnya kami tidak melakukan aksi demo, tapi hanya sekadar longmarch (istilah mereka = masiroh), tujuan kami adalah untuk show of force kepada masyarakat”.
Marilah kita kembali kepada Nabi Muhammad, apakah beliau pernah berdakwah dengan cara-cara seperti itu ? tidak akan pernah kita jumpai satu riwayatpun yang menunjukkan bahwa Nabi merengek-rengek minta pada musuhnya agar syariat diberlakukan, malah yang terjadi sebaliknya. Dan Nabi menjawab, “seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti dari kegiatan ini (dakwah) sampai Allah memenangkanku atau aku binasa di dalamnya”. Sebuah jawaban tegas dari nabi Muhammad. Mungkin dengan bahasa yang mudah saya pahami, “kalian yang menang, silahkan lakukan sesuka kalian, tapi kalau kami yang menang, ……….”.
Yah, yang penting kita fair sajalah, nggak usah curang, dan perjuangan ini belum berakhir. Mengenai show of force, ini adalah permasalahan yang sangat rumit untuk dibahas. Sebagai gambaran, Nabi Muhammad melakukan show of force dengan parade militer.
INGATKAN PENGUASA
Cara mengingatkan penguasa inipun telah diatur dalam Islam, tujuannya adalah agar terjadinya keteraturan dalam masyarakat, tidak tersia-sianya nyawa seorang muslim hanya karena ia salah dalam “cara”.
Rasulullah bersabda : “barangsiapa ingin menasehati penguasa tentang suatu perkara, maka janganlah secara terang-terangan, sampaikanlah secara pribadi, jika ia menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya nasehatnya. “ (HR Ahmad, dalam Zhilalul Jannah karya Al-Albani).
Sudah jelas bahwa dalam menasehati penguasa adalah dengan secara pribadi, tidak membuka aib dan borok-borok penguasa di depan umum, karena di belakang dialah kita menjadikannya tameng jika mendapat serangan dari luar, apalagi jika mengungkap aib tidak dalam rangka menasehati penguasa -yang lazim kita sebut sebagai provokasi-. Seperti yang sering terjadi dalam acara-acara yang diadakan oleh berbagai organisasi-organisasi Islam. Jika yang terjadi demikian, maka bukanlah suatu hal yang mengherankan bila penguasa menjadi terusik dan terganggu. Cukuplah Uzbekistan sebagai muhasabah unutuk diri kita.
Walaupun begitu, masih ada saja orang-orang yang mempertanyakan tentang hadits Nabi diatas, tidak dalam rangka mendalami maknanya lalu diamalkannya, tapi berusaha mencari celah untuk membantah hadits tersebut. Maka kami ingatkan kepada mereka bahwa agama ini tidak berdiri diatas akal, justru akal itulah yang harus disesuaikan dengan agama ini. Akal hanya dipakai sebagai alat bantu untuk memahami nash Al Qur-an dan hadits, tidak dalam rangka menghukuminya dengan menentukan benar / tidak, relevan / tidak suatu nash dengan akal manusia.
Lalu bagaimana ? silahkan dipikirkan sendiri caranya, asalkan tidak keluar dari batas-batas syar’i, seperti Nabi menjelaskan bahwa boleh memakan semua jenis makanan di Bumi, kecuali yang diharamkan. Kembali lagi, silahkan berimprovisasi dan berinovasi dengan ‘cara’, asal tidak keluar dari batas syariat.
Allahu A’lam.

Leave a Reply