Tidak boleh mendatangi undangan yang mengandung maksiat, kecuali jika dalam rangka mengingkari dan menghilangkan maksiat tersebut. Jika maksiat itu hilang, maka itu yang dikehendaki, jika tidak, maka wajib baginya untuk kembali.
Dalam hal ini ada beberapa hadits, diantaranya :
-
Dari Ali, dia berkata : Aku membuatkan makanan untuk Rasulullah. Beliaupun datang dan beliau melihat gambar-gambar (makhluk bernyawa -pen) di rumahku. Beliaupun kembali. [Aku berkata : Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah. Apakah yang menyebabkan engkau kembali? Beliau menjawab: “Sesungguhnya kain tabir yang bergambar di rumahmu itu penyebabnya. Dan sesungguhnya para malaikat tidak akan masuk rumah yang didalamnya ada gambar-gambar.]
-
Dari ‘Aisyah bahwa beliau membeli numruqah (bantal) yang padanya ada gambar-gambar. Ketika Rasulullah melihatnya beliau berdiri didepan pintu, dan tidak mau masuk. Dan aku melihat ketidaksukaan pada wajah Rasulullah. Maka aku berkata : Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, apakah dosa yang telah aku perbuat? Maka Rasulullah bersabda: “Bagaimana keadaan numruqah tersebut?” Dia menjawab: Aku membelinya untuk engkau duduki dan engkau sandari. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya para pelukis gambar-gambar ini (dalam riwayat lain: sesungguhnya orang yang membuat gambar-gambar ini) akan disiksa pada hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka: Hidupkan apa yang telah kalian buat itu! Dan sesungguhnya rumah yang didalamnya [ada semisal gambar ini] tidak akan dimasuki malaikat.” [Dia berkata: Beliau tidak mau masuk sampai numruqah tersebut dikeluarkan].
-
Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia duduk di hadapan hidangan yang diedarkan khamr didalamnya”.
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2/323) dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya (Q 31/1, 37/1, dan 38/2), tambahan tersebut riwayat beliau, dengan sanad yang shahih.
Dikeluarkan oleh Al-Bukhori (9/204 dan 10/319-320), Muslim (61/160), Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya (1/358-359), Abu Bakr Asy-Syafi’i dalam Al-Fawaid (61/2 dan 67-68 ), Al-Baihaqi (7/267), dan Al-Baghawi (3/23/2).
Beliau berkata: “Dalam hadits ini ada dalil bahwa orang yang diundang untuk sebuah walimah dan didalamnya ada suatu kemungkaran dan permainan-permainan sia-sia maka wajib baginya untuk tidak memenuhi undangan tersebut, kecuali bagi orang yang dengan kedatangannya akan menyebabkan kemungkaran tersebut akan ditinggalkan atau hilang dengan sebab larangannya.
Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dari ‘Umar, juga At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Al-Hakim. Beliau menshahihkan riwayat dari Jabir, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Juga dikeluarkan oleh Ath-Thabarani dari Ibnu ‘Abbas dan haditsnya dikeluarkan dalam Al-Irwa’ no. 1949.
Maka berdasarkan apa yang kami sebutkan, amalan as-salafush shalih radhiyallahu ‘anhum berjalan demikian.
Contoh-contoh yang seperti itu sangat banyak, dan aku ringkaskan berdasarkan apa yang aku ingat sekarang:
Continue reading ‘Tidak Mendatangi Undangan Karena Ada Kemaksiatan’
